Oleh: blackknight5675 | April 10, 2011

PRIMA Sound System

Prima sound system  menerima semua permintaan rental sound  system  untuk wilayah magelang temanggung.

terima acara :
1. khitanan
2. pernikahan
3. pengajian
4. band
dll….

BERMINAT?? bisa hubungi di nomor ini
Zaenal Abidin    085225696238 atau
Akhmad Fauzy / WA : 085879837637

https://www.facebook.com/prima.soundsystem96?ref=ts&fref=ts

 

Afi Blaugrana 

Oleh: blackknight5675 | Mei 7, 2010

BUDIDAYA KELAPA SAWIT

Kelapa sawit ( Elaeis guinensis jacg ) adalah salah satu dari beberapa palma yang menghasilkan minyak untuk tujuan komersil. Minyak sawit selain digunakan sebagai minyak makanan margarine, dapat juga digunakan untuk industri sabun, lilin dan dalam pembuatan lembaran-lembaran timah serta industri kosmetik .

SYARAT -SYARAT TUMBUH .
• Curah hujan minimum 1000-1500 mm /tahun, terbagi merata sepanjang tahun.
• Suhu optimal 26°C.
• Kelembaban rata-rata 75 %.
• Dapat tumbuh pada bermacam-macam tanah, asalkan gembur, aerasi dan draenasenya baik, kaya akan humus dan tidak mempunyai lapisan padas.
• pH tanah antara 5,5 – 7,0.

P E M B I B I T A N
a. Pengecambahan Biji.
– Biji dipanaskan dalam germinator selama 60 hari dengan suhu tetap 39oC dan kadar air 18%.
– Kemudian biji direndam dalam air mengalir selama 6 hari, hingga kadar air naik menjadi 24%.
– Selanjutnya biji dikeringkan selama 3 jam dalam ruangan yang teduh.
– Biji dimasukkan dalam kantong plastik ukuran 38 x 39 cm sebanyak 500 biji, kemudian ditutup rapat
– Setelah 10-14 hari, biji mulai berkecambah.
– Biji yang belum berkecambah pada umur 30 hari dibuang saja.
– Kecambah yang tumbuh normal dan sehat, warnanya kekuning-kuningan, tumbuhnya lurus serta bakal daun dan bakal akarnya berlawanan arah.
b. Persemaian dan Pembibitan
– Kecambah dipindahkan kekantong plastik ukuran 14 x 22 cm dengan tebal 0,08 mm.
– Isilah polybag dengan tanah lapisan atas yang dibersihkan dari kotoran dan dihancurkan sebelumnya.
– Lakukan penyiraman polybag sebelum penanaman kecambah dan selanjutnya pada setiap pagi dan sore setelah penanaman.
– Buatlah lobang tanam sedalam 3 cm.
– Buatlah naungan persemaian setinggi 2,5 m
– Setelah bibit berumur 3 bulan dipindahkan kedalam polybag yang besar dengan ukuran 40 x 50 cm, tebal 0,2 mm.

PERSIAPAN LAHAN
– Lahan diolah sebaik mungkin, dibersihkan dari semak-semak dan rumput-rumput liar.
– Buatlah lobang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm atau 60 x 60 x 60 cm, 2 minggu sebelum tanam dengan jarak 9 x 9 x 9 m membentuk segitiga sama sisi.
– Tanah galian bagian atas dicampur dengan pupuk fosfat sebanyak 1 kg/lobang.
– Lobang tanam ditutup kembali dan jangan dipadatkan.

P E N A N A M A N
– Masukkan bibit ke dalam lobang dengan hati-hati dan kantong plastik dibuka.
– Lobang ditimbun dengan tanah, tidak boleh diinjak-injak agar tidak terjadi kerusakan.
– Bibit yang tingginya lebih dari 150 cm, daunnya dipotong untuk mengurangi penguapan.
– Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan.

PEMELIHARAAN TANAMAN
– Lakukan penyulaman untuk mengganti tanaman yang mati dengan tanaman baru yang seumur dengan tanaman yang mati.
– Cadangan bibit untuk penyulaman terus dipelihara sampai dengan umur 3 tahun dan selalu dipindahkan ke kantong plastik yang lebih besar.
– Penyiangan gulma dilakukan 1bulan sekali.
– Lakukan perawatan dan perbaikan parit drainage.
– Anjuran pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seperti pada table 1.
– Sedangkan pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM), kebutuhan pupuk berkisar antara 400 – 1000 kg N, P, K, Mg, Bo per Ha/tahun.
– Lakukan pemupukan 2 kali dalam satu tahun; pada awal dan akhir musim penghujan dengan cara menyebar merata di sekitar piringan tanaman.
– Hama-hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah Ulat Kantong; Metisaplama, Mahasena Coubessi dan Ulat Api; Thosea asigna, Setora nitens, Dasna trina. Sedangkan penyakitnya busuk tandan Marasmius sp.
Hama ulat kantong dikendalikan dengan insektisida yang mengandung bahan aktif metamidofos 200/liter atau 600 g/liter, hama ulat api dengan insektisida yang mengandung bahan aktif permetrin 20 g/liter dan monokrotofos 600 g/lite.
– Potonglah daun yang sudah tua, agar penyebaran cahaya matahari lebih merata, mempermudah penyerbukan alami, memudahkan panen dan mengurangi penguapan.

P A N E N
– Telah dapat menghasilkan pada umur 30 bulan setelah tanam.
– Jumlah pohon yang dapat dipanen per hektar sebanyak 60%.
– Dipilih tandan yang buahnya sudah masak dengan tanda adanya sejumlah buah merah yang jatuh (brondol ).
– Cara panen dengan memotong tandan buah.
– Pemanenan dilakukan 1 kali seminggu.

SUMBER : http://teddygustriandi.wordpress.com/2007/11/06/budidaya-kelapa-sawit/

Oleh: blackknight5675 | Februari 5, 2010

KULTUR JATI


Kultur Jaringan adalah teknik memperbanyak tanaman dengan memperbanyak jaringan mikro tanaman yang ditumbuhkan secara invitro menjadi tanaman yang sempurna dalam jumlah yang tidak terbatas. Yang menjadi dasar kultur jaringan ini adalah teori totipotensi sel yang berbunyi “setiap sel organ tanaman akan mampu tumbuh menjadi tanaman yang sempurna jika ditempatkan di lingkungan yang sesuai. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memperbanyak tanaman dengan waktu yang lebih singkat.

Begitu banyak tanaman yang dapat dibudidayakan dengan kultur jaringan ini seperti Acasia sp, Eucalyptus sp, jati, jelutung, gaharu, sengon, sonokeling, berbagai jenis pisang, berbagai jenis anggrek, dsb.

Penanaman Jati dengan Metode Kultur Jaringan
Jati (Tectona grandis) merupakan famili dari Verbenacea. Merupakan penghasil kayu yang berkualitas, terkenal dengan keawetan dan kekuatannya, dan keindahan teksturnya membuatnya menjadi bahan furniture. Peluang pasar jati amat tinggi, akibatnya permintaan akan bahan kayu jati pun amat tinggi. Akan tetapi sayangnya permintaan tersebut belum dapat diimbangi dengan permintaan bahan kayu jati. Penghasilan baru bahan jati Indonesia adalah 2,5 juta m3/tahun. Harga jati sendiri cukup tinggi. Harganya di dalam negeri sekitar 8-9 juta /m3 sedangkan di luar negeri sekitar 15 juta/m3. akan tetapi walaupun tanaman jati merupakan tanaman yang potensial masih tetap ada kendala dalam hal produksi jati, diantaranya adalah:

  • Jati memerlukan investasi jangka panjang.
  • Masyarakat dan perusahaan swasta kurang meminati bidang produksi jati.
  • Sulit didapatnya bibit yang berkualitas dalam skala banyak dan seragam.

Seperti yang kita singgung sedikit tentang teori totipotensi yang menyebutkan bahwa secara teoritis tiap sel organ tanaman akan bisa tumbuh menjadi tanaman yang sempurna jika ditempatkan dalam lingkungan yang sesuai. Maka digunakanlah metode kultur jaringan ini untuk membudidayakan pohon jati.
Media untuk kultur jaringan ini mengandung:
1. Unsur hara makro dan mikro
2. Vitamin
3. Gula
4. Agar (untuk memadatkan larutan)
5. Zat pengatur tumbuh:
a. Auksin (pertumbuhan tinggi dan akar)
b. Sitokinin (penggandaan tunas)

Proses pembuatan media kultur itu sendiri adalah sebagai berikut:
Bahan kimia ditimbang, dilarutkan dalam air destilasi (air bebas mineral), lalu PH larutan diukur, campurkan agar kemudian dimasaka hingga mendididh, lalu tuangkan media kedalam botol ukur, setelah itu berikan label media dan disterilkan dengan autoclave.

Proses selanjutnya adalah sterilisasi eksplan jati, caranya yaitu:
1. Siapkan pucuk tunas muda jati.
2. Lalu rendam didalam larutan fungisida dan bakterisida.
3. Lalu rendam dalam larutan disinfektan (Clorox/baydin)
4. Dicuci dengan air steril hingga bersih dari desifektan.
5. Lalu tanam didalam media inisiasi tunas invitro.

Tunas-tunas yang ditanam dalam media invitro, disimpan di ruang steril. Botol steril disimpan pada rak kultur yang diberi cahaya lampu TL dengan intensitas cahaya 1000-4000 lux. Lampu TL diatur 16 jam menyala dan 8 jam padam agar sesuai seperti keadaan siang dan malam di bumi. Ruangan tempat penyimpanan dijaga suhunya di temperatur 250-280 C dengan menggunakan AC. Dan secara berkala ruang kultur disteril dengan menggunakan formalin. Inisiasi In vitro pertama adalah saat tunas berusia 3 minggu dan pemanjangan tunas 3-4 minggu.

Setelah itu akan ada proses aklimatisasi yaitu pembiasaan tanaman eksplan dari media botol ke media tanah. Proses aklimatisasi dilanjutkan dengan pembesaran bibit di polybag.

Kelebihan bibit hasil kutur jaringan antara lain :

  • Kontinuitas ketersediaan bibit dalam jumlah besar akan terjaga sepanjang waktu.
  • Bibit yang sama memiliki sifat yang sama dengan induknya.
  • Bibit yang dihasilkan bebas dari penyakit dan virus.
  • Lebih cepat tumbuh.

Cara Melakukan Pemindahan Tanaman Eksplan, Mempersihkan Kalusnya, dan Proses Aklimitasi
1. memindahkan tanaman eksplan & membersihkan kalusnya.
Alat dan bahan:
• Pinset steril.
• Pisau khusus steril.
• Kapas steril.
• Alat laminar.
• Tanaman eksplan.
• Dua buah botol dengan media agar didalamnya.
• Spiritus
• Korek api.
• Wadah pinset dan pisau.
• Alkohol.

Cara kerja:
1. Sterilkan tangan dengan menyemprotkan alkohol ke tangan.
2. Keluarkan tanaman eksplan yang akan dibersihkan kalusnya dengan menggunakan pinset.
3. Letakkan di sebuah wadah dengan kapas diatasnya.
4. Jepit bagian batang eksplan dengan pinset kemudian potong bagian kalusnya menggunkan pinset denganhati-hati. Potong kalus dari keempat sisinya. Jangan sampai kalus tersebut terpotong semua.
5. Setelah selesai proses pemotongannya, bersihkan kalus tersebut dari media dengan menggunkan kapas steril.
6. Pindahkan tanaman eksplan yang telah bersih dengan menggunakan pinset ke dalam media agar pada botol yang baru.
7. Tutup botol tersebut, jaga agar tetap steril.
8. Setelah selesai, celupkan pisau dan pinset kedalam alcohol kemudian bakar dengan api dan lekas letakkan kembali pada wadahnya.

Proses pensterilan selalu dilakukan secara rutin tiap sebulan sekali selama 24 jam. Botol-botl berisi tanaman eksplan disimpan di rak-rak dengan suhu 240-260 C selama 24 jam (setiap botol harus diberi label). Vitamin yang diberikan untuk eksplan yaitu C, B2, & B3 kemudian diaduk dengan gula dan agar-agar. Waktu tumbuh tanaman eksplan yaitu: induksi (3 minggu), multipikasi (3 minggu), aklimitasi (3 minggu). Biasanya tanaman diberi “bapitrof” (obat yang diberikan setelah proses aklimitasi yang berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar).

2. Proses Aklimitasi.
Proses aklimitasi mmerlukan kadar kelembaban 80%. Di perkebunan & Greenhouse biasanya digunakan suatu alat yang disebut sonic level fungsinya antara lain:
1. mengusir serangga dengan getarannya.
2. merangsang pertumbuhan tanaman.
Untuk mengukur PH tanaman menggunakan PH meter, ukuran PH tanaman biasanya ± 5,7-5,8 PH. Apabila PH tinggi diberi KOH, NaOh, apabila PH rendah diberi HCL.

Oleh: blackknight5675 | Januari 22, 2010

kultur jaringan jati

TANAMAN JATI HASIL KULTUR JARINGAN

Jati hasil kultur jaringan yang beredar saat ini dengan klon dari berbagai asal-usul di luar negeri, perlu dikaji lebih cermat karena pada umumnya klon yang berasal dari kultur jaringan bersifat site spesific, sehingga belum tentu cocok dikembangkan di setiap lokasi di Indonesia.

Perbanyakan secara kultur jaringan bukan merupakan metode pemuliaan, tetapi hanya merupakan suatu metode perbanyakan biasa sehingga tidak dapat memperbaiki kualitas genetik bibit. Oleh karenanya perlu didukung adanya uji klon unggul untuk skala operasional.

Oleh karena itu dalam program pengembangan jati diminta agar dilaksanakan koordinasi yang intensif dan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1. Penggunaan klon-klon jati lokal dengan jumlah (klon) yang lebih besar dan jelas asal-usulnya untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan di masa yang akan datang.
2. Informasi yang tersebar tentang jati yang dapat dipanen pada umur 15 tahun, masih perlu dilakukan kajian lebih lanjut dari berbagai aspek antara lain aspek genetik. Sebab aspek genetik sangat berperan dalam meningkatkan kualitas dan produktivitas tanaman melalui uji genetik. Untuk itu perlu dilakukan plot uji coba genetik pada setiap lokasi pengembangan yang akan dilakukan dan dapat dimonitor serta diamati perkembangannya. Perlu diinformasikan bahwa Badan Litbang Kehutanan sedang melakukan uji coba genetik jati dari berbagai sumber/provenance.

Di samping faktor genetik, manipulasi faktor lingkungan seperti jarak tanam, pemupukan, pemeliharaan, pola tanam dan lain-lainnya merupakan hal penting yang harus dilakukan dan ternyata memberikan hasil yang signifikan.

sumber :
http://www.dishutbun.pemda-diy.go.id/v9/?page=artikel_detail&id=106
<a

Oleh: blackknight5675 | April 30, 2009

DURIAN MONTONG

Durian
(Durian (Ingg.), Durio zibethinus Murr. (Latin))
durian montong

Asal:

Asia Tenggara, terutama Malaysia dan Indonesia. Namun pengembangan durian unggul saat ini ada di Thailand.

Deskripsi:

Pohon kayu besar dapat mencapai ketinggian 30 m. Dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga 800 m dpl dengan tipe iklim basah (curah hujan 1500-2500 per tahun). Tanaman dari biji mulai berbunga pada umur 8-15 tahun, sedangkan dari hasil okulasi pada umur 5-7 tahun. Buah matang dipanen pohon pada umur 4-5 bulan setelah bunga mekar.

Durian varietas unggul di Indonesia adalah Otong (Monthong), Kani (Chanee), Sukun, Petruk, Sunan, Sitokong, Simas, Sidodol, Sijapang, Sihijau, Perwira, Bokor dan Siriwig. Otong dan Kani merupakan durian introduksi dari Thailand, sedangkan Sitokong merupakan varietas asli Indonesia. Musim panen antara bulan Oktober hingga Februari.

Budidaya:

Sebagai batang bawah digunakan tanaman yang berasal dari biji yang telah berumur 4-8 bulan

Meski tanaman durain relatif tahan naungan sebaiknya lokasi penanamannya terbuka

Setelah penyerbukan dan terbentuk pentil buah, sebaiknya segera dibungkus untuk mencegah serangan penggerek buah.

Untuk mencegah buah matang jatuh ke tanah, sebaiknya buah diikat dengan tali rafia ke cabang terdekat.

Hama dan Penyakit:

Hama utama durian adalah penggerek buah dan batang (lubang pada batang sebaiknya disumbat dengan ter/kapas atau kapas yang telah dicelupkan ke insektisida). Hama lain yang mengganggu adalah kutu daun (kuning) dan kutu kapas (putih). Penyakit yang mengganggu durian adalah penyakit busuk leher batang, penyakit busuk batang dan busuk bergetah.

Panen:

Ciri buah yang telah tua adalah bila diketuk menghasilkan suara yang nyaring. Hasil panen 10-200 buah per pohon dengan berat 1.5 – 5 kg per buah (tergantung varietasnya).

Oleh: blackknight5675 | April 30, 2009

SAWO MANIS

Sawo
(Sapodilla (Ingg.), Manilkara achras (mill.) Fosb. (Latin))
sawo

Deskripsi:

Famili Sapotaceae. Tanaman perennial, batang berkayu keras, dengan sistem percabangan cukup rapat dapat mencapai ketinggian 20 m. Daun sawo berbentuk bulat memanjang, tumbuh menggerombol pada bagian ujung ranting. Warna daun hijau mengkilap di bagian atas dan hijau muda tua kecoklatan di bagian bawah tergantung jenisnya. Bentuk buah mulai bulat, bulat telur sampai bulat memanjang. Warna kulit buah matang coklat, coklat kekuningan, coklat kemerahan, atau hijau.

Jenis:

Sawo Manila (Manilkara zapota)
Berbentuk lonjong, daging buah cukup tebal dan banyak mengandung air. Sawo yang termasuk kelompok sawo manila :

Sawo Kulon
Buah lonjong, biji banyak, bergetah dan relatif tahan lama disimpan.

Sawo Betawi
Buah lonjong besar, tidak bergetah maupun berbiji dan rasanya manis namun kurang tahan lama disimpan karena daging buah yang lembek

Sawo Karat
Buah agak lonjong besar, kulit tebal dan kasar, berbintil-bintil kecil. Dipanen dalam stadium masih mentah, bila masak di pohon akan berkerut-kerut.

Sawo Malaysia
Buah lonjong besar dan rasanya manis.

Sawo Apel
Berbentuk bulat atau bulat telur (mirip apel), berukuran kecil hingga agak besar dan bergetah banyak. Sawo yang termasuk kelompok sawo apel :

Sawo Apel Kelapa
Buah bulat kecil, kulit tebal, bergetah, berbiji banyak dan tahan disimpan.

Sawo Apel Lilin
Buah agak besar, bulat, daging buah agak keras seperti mengandung pasir.

Sawo Duren (White Sapota (Ingg.), Casimiroa edulis La Llave (Latin))
Sawo duren memiliki aroma seperti durian. Buah bulat berukuran agak besar hingga besar, kulit buah halus dan licin, dan warna daun mirip tanaman duri

Sawo Duren Merah

Syarat Tumbuh:

Dapat tumbuh baik di dataran rendah hingga ketinggian 700 m dpl. Curah hujan 2000 mm- 3000m/tahun, suhu 22 o – 32 o C, toleran terhadap naungan. Tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik dengan pH 6-7.

Pembibitan:

Biji
Pembibitan asal biji memerlukan waktu yang lama hingga siap tanam. Selain itu tanaman yang berasal dari biji mulai berbunga pada umur sekitar 6-10 tahun.

Penyambungan
Praktek penyambungan tanaman sawo masih jarang dilakukan, namun dilaporkan penyambungan sawo dengan batang bawah melali/bassi menunjukkan kecocokan namun kurang berhasil dalam produksi buah. Mulai berbunga pada umur 4-6 tahun.

Pencangkokan
Pencangkokan banyak dilakukan oleh para penangkar bibit tanaman buah-buahan. Bibit asal cangkokan dapat mulai berbuah pada umur kurang dari setahun.

Hama dan Penyakit:

Lalat buah (Dacus dorsalis) dapat menyebabkan kerusakan pada buah

Kutu bubuk dan Aphid nerusak daun, pucuk, bunga dan buah muda.

Penyakit jambu (Corticium salmonicolor) mematikan cabang yang terserang

Penyakit bercak daun (Phaeopheospora indica)

Oleh: blackknight5675 | April 30, 2009

KELENGKENG

Kelengkeng
(Longan (Ingg.), Euphoria longana (latin))

kelengkeng

Asal:

Berasal dari Sri lanka, India, Birma dan Cina. Jenis-jenis kelenkeng liar banyak ditemukan di Kalimantan Timur degan nama buku, ihaw, medaru, kakus atau mata kucing. Tanaman ini mirip dengan leci yang tumbuh di dataran tinggi. Di Indonesia, kelengkeng terdapat di Temanggung, Magelang, sedangakn leci di terdapat di Bali.

Deskripsi:

Famili Sapindaceae. Tinggi tanaman dapat mencapai 40 m. Lebih cocok ditanam di dataran rendah (300-900 m dpl), tipe iklim basah dengan musim kering tidak lebih dari 4 bulan. Suhu malam dingin selama musim kemarau (15 o – 20 o C) mendorong tanaman berbunga. Ada tanaman yang berbunga sempurna maupun hanya berbunga betina atau jantan saja. Tanaman kelengkeng berbunga setahun sekali, biasanya pada bulan Agustus-Oktober dan buah dapat dipanen 4 bulan setelah bunga mekar. Buah kelengkeng berbentuk bulat besar, kulit hijau kasar ketika masih muda dan kuning kecoklatan setelah tua serta tidak berbulu. Daging buah bening berair, dengan rasa manis dan aroma yang khas.

Karakteristik Beberapa Varietas Kelengkeng:
Karakter Buah Varietas
Lumut Batu Kopyor
Warna kulit buah matang agak gelap cerah agak cerah
Daging buah tipis tebal kurang tebal
Sifat daging buah lengket ngelotok ngelotok
Rasa kurang manis manis segar manis
Aroma langu agak harum kurang harum
Biji besar kecil agak besar

Budidaya:

Bibit sebaiiknya berasal perbanyakan vegetatif (cangkok dan okulasi). Tanaman dari biji baru mulai berbuah lebih dari umur 7 tahun

Jarak tanam agak lebar (8 x 8 m) karena ukuran tajuknya yang lebar

Pemeliharaan yang penting adalah pemangkasan cabang negatif agar sinar matahari dapat masuk merata ke tajuk tanaman.

Hama dan Penyakit:

Hama yang biasanya menyerang adalah serangga pengisap buah. Sedngakan penyakit yang sering menyerang di musim penghujan adalah Mildew (seperti yang menyerang buah rambutan).

Panen:

Tanaman mulai berbunga pada umur 5-6 tahun (Juli-Oktober). Buah matang 5 bulan setelah bunga mekar.

Ciri-ciri buah matang adalah warna kulit buah coklat gelap, licin dan mengeluarkan aroma.

Produksi buah rata-rata 300-600 kg per pohon.

Oleh: blackknight5675 | April 30, 2009

ALPUKAT

Alpukat
(Avocado (Ingg.), Persea americana (Latin))alpukat

Deskripsi:

Famili Lauraceae. Kultivar Alpukat yang tersebar di Indonesia di antaranya adalah Alpukat ijo, panjang, ijo bundar, merah panjang, merah bundar dan fuerte.

Varietas Alpukat unggul memiliki beberapa ciri khas, di antaranya adalah produksi yang tinggi dan teratur, buah yang seragam dan berbentuk oval atau pyriform (bentuk seperti bola). Adapun yang tergolong dalam varietas unggul adalah Alpukat ijo bundar dan ijo panjang.

Syarat Tumbuh:

Curah hujan antara 1500-3000 mm per tahun dan dapat dipanen pada umur 7-10 tahun (Setiadi, 1997). Alpukat paling cocok jika ditanam pada ketinggian 200-1000 meter dpl, karena pada ketinggian tersebut akan dihasilkan buah yang lebat.

Walaupun tanaman ini dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tetapi ada syarat yang harus dipenuhi yaitu tanah yang tidak kedap air dan berdrainase baik dengan pH 5-7. Hal ini disebabkan karena perakaran tanaman Alpukat yang miskin dan kurang baik sehingga sangat peka terhadap kelebihan atau kekurangan air tanah.

Pembibitan:

Benih segar Alpukat berkecambah dalam waktu 3 minggu setelah disemai pada suhu siang 25° C dan suhu malam 15° C, mula-mula akan muncul calon akar. Kemudian pertumbuhan memanjang terjadi kurang-lebih secara serempak. Baik suhu maupun beban buah akan mempengaruhi munculnya daun secara serrempak dan pohon yang biasa berbuah di daerah subtropik pada umumnya menghasilkan dua kali munculnya daun secara serempak, yaitu pada musim semi dan musim penghujan.

Budidaya:

Sebelum penanaman dilakukan pemupukan dengan 10 liter pupuk serasah dan 300 gr fosfor dikubur sedalam 10 cm dibakal lubang tanam. Jarak tanam bervariasi dari 6-12 cm dalam bentuk segi empat (280-690 pohon/Ha). Jarak yang rapat menambah hasil dalam 6-8 tahun pertama, tetapi setelah itu diperlukan pemindahan pohon. Alpukat sangat tidak responsif terhadap pemangkasan, dan pola tanam itu sebaiknya memungkinkan dilakukan penjarangan untuk memberikan ruang gerak tanaman tumbuh sepenuhnya (misalnya 9m x 6m, yang kemudian diperpanjang menjadi 12m x 9m).

Panen:

Matangnya buah dikira-kira dari kemampuan buah untuk menjadi lunak dan enak dimakan tanpa mengkerut atau rusaknya daging buah setelah dipetik dari pohon. Pemetikan dilakukan melalui tangan dengan memasukkan buah didalam keranjang pengumpul, atau dengan galah pemetik yang berujung kait dilengkapi dengan kantong pengumpul, dianjurkan uuntuk dilaksanakan. Setelah pemetikan, buah sebaiknya dilindungi dari sinar matahari langsung untuk mencegah timbulnya panas yang terbawa dari lapangan.

Pasca Panen:

Penanganan pasca panennya yaitu dengan menyikat buah secara hati-hati untuk menghilangkan sisa bunga, kutu perisai dan bekas-bekas fungisida dari lapangan, menjadikan buah berkilauan dan menarik.

Buah peringkat pertama dipasarkan melalui pengepakan dengan tangan ke dalam kotak karton berlapis tunggal atau dobel yang isinya 4-10 kg berat bersih. Penanganan pasca panen di negara -negara Asia Tenggara tidak begitu canggih, mengingat penyimpanan dalam suhu dingin jarang dilakukan dan buah-buah itu diangkut ke pasar-pasar lokal dalam keranjang atau peti terbuka.

Oleh: blackknight5675 | April 30, 2009

ANATOMI RAMBUTAN

Rambutan
(Rambutan (Ingg.), Nephelium lappaceum L. (Latin))

Deskripsi:

Famili Sapindaceae. Tanaman asli Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia tanaman rambutan menyebar dari dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl dengan iklim basah merata sepanjang tahun sampai tipe iklim yang memiliki 1-3 bulan kering. Tanaman rambutan dapat mencapai ketinggian 12-15 m. Batang bulat atau bulat tidak teratur dengan warna kelabu kecoklatan, bercabang banyak dan lurus berdiameter 40-60 cm. Tajuk pohon bulat, jorong, piramida, tumpul, melebar, tidak teratur atau ujungnya terbuka, tampak hijau merimbun.

Beberapa varietas unggul rambutan yang telah dikembangkan:

Rambutan Binjai
Asal dari Pasarminggu. Tinggi tanaman 6-7 m (bibit asal cangkok). Tajuk pohon 10-12 m. Bentuk daun bulat panjang dengan ujung tumpul. Warna daun hijau tua. Bentuk buah agak lonjong dengan rambut panjang, jarang dan kesat dengan warna rambut merah dan ujung hijau. Warna kulit buah matang merah tua. Daging buah ngelotok dengan kulit biji melekat. Rasa buah manis agak kering. Berat buah sekitar 30 g dengan produksi per pohon 40-68 kg.

Rambutan Sirapeah (Rapiah)
Asal dari Pasarminggu. Tinggi tanaman 6.5-7.5 m (asal cangkok). Tajuk pohon 10-11 m. Bentuk daun bulat panjang dengan ujung tumpul berwarna hijau tua. Bentuk buah bulat memmpunyai pelat dengan rambut sangat pendek, agak jorong dan keras. Warna kulit buah matang hijau kekuningan dengan warna rambut hijau dengan ujung kemerahan. Daging buah ngelotok, kulit biji agak melekat, rasa manis. Berat buah sekitar 20 g dengan produksi per pohon 18-30 kg.

Rambutan Lebak Bulus
Asal dari Pasarminggu. Tinggi tanaman 5-10 m dengan tajuk pohon 6-8 m. Bentuk daun bulat panjang dengan ujung runcing. Warna daun hiaju tua. Bentuk buah bulat dengan rambut panjang jarang dan halus. Warna rambut merah dengan ujung kekuninga. Warna kulit buah matang merah. Daging buah ngelotok, kulit biji melekat dengan rasa manis berair. Berat buah sekitar 25 g dengan produksi/pohon 50-100 kg.

Rambutan Sibongkok
Asal Sungai Lulut, Kalimantan Selatan. Tinggi tanaman 6-8 m. Tajuk pohon 5-7 m. Bentuk daun bulat panjang dengan ujung meruncing berwarna hijau tua. Bentuk buah merah tua kecoklatan, dengan warna rambut merah tua. Daging buah ngelotok dengan kulit biji agak melekat. Rasa manis agak kering. Berat buah 50-60 g dengan produksi/pohon 175-225 kg.

Rambutan
(Rambutan (Ingg.), Nephelium lappaceum L. (Latin))

Deskripsi:

Famili Sapindaceae. Tanaman asli Indonesia dan Malaysia. Di Indonesia tanaman rambutan menyebar dari dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl dengan iklim basah merata sepanjang tahun sampai tipe iklim yang memiliki 1-3 bulan kering. Tanaman rambutan dapat mencapai ketinggian 12-15 m. Batang bulat atau bulat tidak teratur dengan warna kelabu kecoklatan, bercabang banyak dan lurus berdiameter 40-60 cm. Tajuk pohon bulat, jorong, piramida, tumpul, melebar, tidak teratur atau ujungnya terbuka, tampak hijau merimbun.

Beberapa varietas unggul rambutan yang telah dikembangkan:

Rambutan Binjai
Asal dari Pasarminggu. Tinggi tanaman 6-7 m (bibit asal cangkok). Tajuk pohon 10-12 m. Bentuk daun bulat panjang dengan ujung tumpul. Warna daun hijau tua. Bentuk buah agak lonjong dengan rambut panjang, jarang dan kesat dengan warna rambut merah dan ujung hijau. Warna kulit buah matang merah tua. Daging buah ngelotok dengan kulit biji melekat. Rasa buah manis agak kering. Berat buah sekitar 30 g dengan produksi per pohon 40-68 kg.

Rambutan Sirapeah (Rapiah)
Asal dari Pasarminggu. Tinggi tanaman 6.5-7.5 m (asal cangkok). Tajuk pohon 10-11 m. Bentuk daun bulat panjang dengan ujung tumpul berwarna hijau tua. Bentuk buah bulat memmpunyai pelat dengan rambut sangat pendek, agak jorong dan keras. Warna kulit buah matang hijau kekuningan dengan warna rambut hijau dengan ujung kemerahan. Daging buah ngelotok, kulit biji agak melekat, rasa manis. Berat buah sekitar 20 g dengan produksi per pohon 18-30 kg.

Rambutan Lebak Bulus
Asal dari Pasarminggu. Tinggi tanaman 5-10 m dengan tajuk pohon 6-8 m. Bentuk daun bulat panjang dengan ujung runcing. Warna daun hiaju tua. Bentuk buah bulat dengan rambut panjang jarang dan halus. Warna rambut merah dengan ujung kekuninga. Warna kulit buah matang merah. Daging buah ngelotok, kulit biji melekat dengan rasa manis berair. Berat buah sekitar 25 g dengan produksi/pohon 50-100 kg.

Rambutan Sibongkok
Asal Sungai Lulut, Kalimantan Selatan. Tinggi tanaman 6-8 m. Tajuk pohon 5-7 m. Bentuk daun bulat panjang dengan ujung meruncing berwarna hijau tua. Bentuk buah merah tua kecoklatan, dengan warna rambut merah tua. Daging buah ngelotok dengan kulit biji agak melekat. Rasa manis agak kering. Berat buah 50-60 g dengan produksi/pohon 175-225 kg.

Oleh: blackknight5675 | Maret 12, 2009

BUDIDAYA PEPAYA

CARICA PAPAYA

CARICA PAPAYA

SYARAT PERTUMBUHAN
Tanaman dapat tumbuh pada dataran rendah dan tinggi 700 – 1000 mdpl, curah hujan 1000 – 2000 mm/tahun, suhu udara optimum 22 – 26 derajat C dan kelembaban udara sekitar 40% dan angin yang tidak terlalu kencang sangat baik untuk penyerbukan. Tanah subur, gembur, mengandung humus dan harus banyak menahan air, pH tanah yang ideal adalah netral dengan pH 6 -7.

PEMBIBITAN
1. Persyaratan Bibit/Benih
– Biji-biji yang digunakan sebagai bibit diambil dari buah-buah yang telah masak benar dan berasal dari pohon pilihan. Buah pilihan tersebut di belah dua untuk diambil biji-bijinya. Biji yang dikeluarkan kemudian dicuci bersih hingga kulit yang menyelubungi biji terbuang lalu dikeringkan ditempat yang teduh.
– Biji yang segar digunakan sebagai bibit. Bibit jangan diambil dari buah yang sudah terlalu masak/tua dan jangan dari pohon yang sudah tua.

2. Penyiapan Benih
Kebutuhan benih perhektar 60 gram (± 2000 tanaman). Benih direndam dalam larutan POC NASA 2 cc/liter selama 1-2 jam, ditiriskan dan ditebari Natural GLIO kemudian disemai dalam polybag ukuran 20 x 15 cm. Media yang digunakan merupakan campuran 2 ember tanah yang di ayak ditambah 1 ember pupuk kandang yang sudah matang dan diayak ditambah 50 gram TSP dihaluskan ditambah 30 gram Natural GLIO.

3. Teknik Penyemaian Benih
– Benih dimasukan pada kedalaman 1 cm kemudian tutup dengan tanah. Disiram setiap hari. Benih berkecambah muncul setelah 12-15 hari. Pada saat ketinggiannya 15-20 cm atau 45-60 hari bibit siap ditanam.
– Biji-biji tersebut bisa langsung ditanam/disemai lebih dahulu. Penyemaian dilakukan 2 atau 3 bulan sebelum bibit persemaian itu dipindahkan ke kebun.

4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian
Pada persemaian biji-biji ditaburkan dalam larikan (barisan ) dengan jarak 5 – 10 cm. Biji tidak boleh dibenam dalam-dalam, cukup sedalam biji, yakni 1 cm. Dengan pemeliharaan yang baik, biji-biji akan tumbuh sesudah 3 minggu ditanam. Semprotkan POC NASA seminggu sekali dosis 2 tutup/tangki

5. Pemindahan Bibit
Bibit-bibit yang sudah dewasa, sekitar umur 2 – 3 bulan dapat dipindahkan pada permulaan musim hujan.

PENGOLAHAN MEDIA TANAM
1. Persiapan
Lahan dibersihkan dari rumput, semak dan kotoran lain, kemudian dicangkul/dibajak dan digemburkan.

2. Pembentukan Bedengan
– Bentuk bedengan berukuran lebar 200 – 250 cm, tinggi 20 – 30 cm, panjang secukupnya, jarak antar bedengan 60 cm.
– Buat lubang ukuran 50 x 50 x 40 cm di atas bedengan, dengan jarak tanam 2 x 2,5 m.

3. Pengapuran
Apabila tanah yang akan ditanami pepaya bersifat asam (pH kurang dari 5), setelah diberi pupuk yang matang, perlu ditambah ± 1 kg Dolomit dan biarkan 1-2 minggu.

4. Pemupukan
Sebelum diberi pupuk, tanah yang akan ditanami pepaya harus dikeringkan satu minggu, setelah itu tutup dengan tanah campuran 3 blek pupuk kandang yang telah matang atau dengan SUPERNASA.

TEKNIK PENANAMAN
1. Pembuatan Lubang Tanam
– Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 40 cm, yang digali secara berbaris. Biarkan lubang-lubang kosong agar memperoleh cukup sinar matahari. – – Setelah itu lubang-lubang diisi dengan tanah yang telah dicampuri dengan pupuk kandang 2 – 3 blek. Jika pupuk kandang tidak tersedia dapat dipakai SUPERNASA dengan cara disiramkan kelubang tanam dosis 1 sendok makan/10 lt air sebelum tanam. Lubang – lubang yang ditutupi gundukan tanah yang cembung dibiarkan 2-3 hari hingga tanah mengendap. Setelah itu baru lubang-lubang siap ditanami. Lubang-lubang tersebut diatas dibuat 1-2 bulan penanaman.
– Apabila biji ditanam langsung ke kebun, maka lubang – lubang pertanaman harus digali terlebih dahulu. Lubang-lubang pertanaman untuk biji-biji harus selesai ± 5 bulan sebelum musim hujan.

2. Cara Penanaman
Tiap-tiap lubang diisi dengan 3-4 buah biji. Beberapa bulan kemudian akan dapat dilihat tanaman yang jantan dan betina atau berkelamin dua.

PEMELIHARAAN TANAMAN
1. Penjarangan dan Penyulaman
Penjarangan tanaman dilakukan untuk memperoleh tanaman betina disamping beberapa batang pohon jantan. Hal ini dilakukan pada waktu tanaman mulai berbunga.

2. Penyiangan
Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan penyiangan (pembuangan rumput). Kapan dan berapa kali kebun tersebut harus disiangi tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.

3. Pembubunan
Kebun pepaya sama halnya dengan kebun buah-buahan lainnya, memerlukan pendangiran tanah. Kapan dan berapa kali kebun tersebut harus didangiri tak dapat dipastikan dengan tegas, tergantung dari keadaan.

4. Pemupukan
Pohon pepaya memerlukan pupuk yang banyak, khususnya pupuk organik, memberikan zat-zat makanan yang diperlukan dan dapat menjaga kelembaban tanah.
Cara pemberian pupuk:
– Tiap minggu setelah tanam beri pupuk kimia, 50 gram ZA, 25 gram Urea, 50 gram TSP dan 25 gram KCl, dicampur dan ditanam melingkar.
– Satu bulan kemudian lakukan pemupukan kedua dengan komposisi 75 gram ZA, 35 gram Urea, 75 gram TSP, dan 40 gram KCl
– Saat umur 3-5 bulan lakukan pemupukan ketiga dengan komposisi 75 gram ZA, 50 gram Urea, 75 gramTSP, 50 gram KCl
– Umur 6 bulan dan seterusnya 1 bulan sekali diberi pupuk dengan 100 gram ZA, 60 gram Urea, 75 gramTSP, dan 75 gram KCl
– Siramkan SUPERNASA ke lubang tanam dengan dosis 1 sendok makan/10 liter air setiap 1-2 bulan sekali
– Lakukan penyemprotan POC NASA dosis 3 tutup / tangki setiap 1-2 minggu sekali setelah tanam sampai umur 2-3 bulan
– Setelah umur 3 bulan semprot dengan POC NASA 3 – 4 tutup ditambah HORMONIK dosis 1 – 2 tutup / tangki.
– Penyemprotan hati – hati pada saat berbunga agar tidak kena bunga yang mekar atau lebih aman bisa disiramkan.

5. Pengairan dan Penyiraman
Tanaman pepaya memerlukan cukup air tetapi tidak tahan air yang tergenang. Maka pengairan dan pembuangan air harus diatur dengan seksama. Apalagi di daerah yang banyak turun hujan dan bertanah liat, maka harus dibuatkan parit-parit. Pada musim kemarau, tanaman pepaya harus sering disirami.

HAMA DAN PENYAKIT
Kutu tanaman (Aphid sp., Tungau). Badan halus panjang 2 – 3 mm berwarna hijau, kuning atau hitam. Memiliki sepasang tonjolan tabung pada bagian belakang perut, bersungut dan kaki panjang. Kutu dewasa, ada yang bersayap dan tidak. Merusak tanaman dengan cara menghisap cairan dengan pencucuk penghisap yang panjang di bagian mulut.
Pengendalian : semprot dengan Natural BVR atau PESTONA secara bergantian
Penyakit yang sering merugikan tanaman pepaya adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur, virus mosaik, rebah semai, busuk buah, leher akar, pangkal batang dan nematoda.
Penyakit mati bujang diisebabkan oleh jamur Phytophthora parasitica, P. palmivora dan Pythium aphanidermatum. Menyerang buah dan batang pepaya. Cara pencegahan: perawatan kebun yang baik, menjaga kebersihan, dan drainase serta sebarkan Natural GLIO ke lubang tanam, sedangkan penyakit busuk akar disebabkan oleh jamur Meloidogyne incognita.
Nematoda. Apabila lahan telah ditanami pepaya, disarankan agar tidak menanam pepaya kembali, untuk mencegah timbulnya serangan nematoda. Tanaman yang terinfeksi oleh nematoda menyebabkan daun menguning, layu dan mati. Pengendalian : Siramkan PESTONA ke lubang tanam

PANEN DAN PASCA PANEN
1. Ciri dan Umur Panen
Tanaman pepaya dapat dipanen setelah berumur 9-12 bulan. Buah pepaya dipetik harus pada waktu buah itu memberikan tanda-tanda kematangan: warna kulit buah mulai menguning. Tetapi masih banyak petani yang memetiknya pada waktu buah belum terlalu matang.

2. Cara Panen
Panen dilakukan dengan berbagai macam cara, pada umumnya panen/pemetikan dilakukan dengan menggunakan “songgo” (berupa bambu yang pada ujungnya berbentuk setengah kerucut yang berguna untuk menjaga agar buah tersebut tidak jatuh pada saat dipetik).

Older Posts »

Kategori